Dalam sepekan terakhir setidaknya di Kota Palembang dan sekitarnya khususnya beberapa kawasan yang berada di sepajang hilir aliran sungai musi telah mengalami bencana berupa genangan air sebagai akibat dari kenaikan muka air pasang

Secara karakteristik type pasang surut yang ada di sekitaran pantai sumatera selatan yang masuk pada aliran sungai musi adalah tipe Diurdinal. Tipe pasang surut diurdinal memiliki arti bahwa dalam rentang waktu 24 jam kawasan tersebut akan terjadi 1 kali puncak air pasang dan 1 puncak air surut.

Fenomena air pasang laut ini adalah kejadian alam yang biasa terjadi secara periodik yang disebabkan salah satunya adalah Fase Bulan Baru (super moon) dimana posisi Bumi , Bulan dan Matahari posisi sejajar pada garis edarnya dan menyebabkan gaya grafitasi antara benda di langit dan bumi menjadi lebih kuat.

BMKG Palembang telah menyampaikan informasi data pasang surut ini melalui beberapa kanal salah satunya adalah media sosial info cuaca sumsel dan WA Grup yang didalamnya tergabung beberapa stakeholders (BPBD, PUPR, Pusdalop Sumsel dan Kabupaten/Kota, TNI, Polri dan Media Massa) termasuk Forkopimda dan Jajaran Walikota Palembang.

Kisaran kenaikan muka air pasang yang disampaikan sejak 6 -14 Februari 2024 berada pada level 3 meter – 4 meter. Setidaknya ada sekitar 11 kawasan yang berada di kawasan DAS dan SUB DAS Sungai Musi yang terdampak air pasang cukup signifikan dan menggenangi rumah warga.

Diantaranya adalah kawasan Gandus, Ilir Barat 1, Ilir Barat 2, Sako, Kertapati, Kalidoni, Sematang Borang, Kemuning, Seberang Ulu, Jabaring dan Plaju.

Selanjutnya dengan adanya perkiraan air pasang hingga 14 Februari 2024 yang secara bersamaan bertepatan dengan kegiatan pesta demokrasi, kiranya bisa menjadi pertimbangan bagi KPPS dalam menentukan lokasi TPS agar bisa diantisipasi dengan memilih lokasi yang aman dari dampak genangan air akibat kenaikan air pasang yang masuk di aliran sungai musi khususnya di palembang sekitarnya.

Secara karakteristik palembang memiliki topografi berupa dataran rendah atau cekungan bahkan berupa rawa. Bmkg Palembang menghimbau masyarakat agar terus waspada dan siaga terhadap kondisi ini dengan terus melakukan update info yang diberikan oleh BMKG Palembang dan dapat meminimalisir dampak pasang surut dengan kembali kepada kearifan lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita dimana rumah warga dibangun berupa rumah panggung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *